Petualangan di Pulau Long: Bagian 1

Tak ada pakaian baru, kertas angpao, dan kembang api pada Imlek tahun ini. Namun, pengorbananku tak akan berakhir sia-sia. Aku telah bertekad untuk berusaha semaksimal mungkin untuk “hadir” secara penuh di kelas dan dalam masyarakat. Pagi itu, dua perahu nelayan menjemput kami di suatu dermaga di Desa Gantung. Keberangkatan kami menuju Pulau Long mungkin masih terlalu pagi karena panggilan ponselku gagal tersambung ke orang tuaku. Walhasil, ucapan dan harapan Tahun Baru Imlek hanya tersampaikan melalui pesan singkat yang berhasil aku kirim sebelum melewati cakupan jaringan seluler.

Dermaga di Pulau Long

Jangan tanyakan bagaimana ombak lautan pagi itu karena aku sibuk balas dendam tidur selama perjalanan. Setelah sekitar empat jam, sampailah kami di Pulau Long yang terlihat bagaikan barisan pepohonan dari kejauhan. Pak Uli, kepala sekolah SDN 11 Gantung, menyambut kami dengan berteko-teko air es di depan mess dinas yang akan kami diami selama 10 hari ke depan. Untungnya, tempat tinggal sementara kami merupakan salah satu dari bangungan-bangungan langka di Pulau Long yang memiliki toilet. Standar hidup di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) memang mungkin belum dapat dibandingkan dengan yang di perkotaan. Di sana, pendekatan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti penggunaan jamban sehat alih-alih defekasi di kawasan pantai dan membuang sampah pada tempatnya, masih perlu diusahakan. Kita dapat belajar dari daerah lain, contohnya gerakan BASNO di Provinsi NTB. Aku juga prihatin melihat perokok di bawah umur. Namun apa daya, anak-anak di Pulau Long tumbuh di lingkungan pergaulan perokok aktif. Aku pun bertanya-tanya pada diriku sendiri. Tahukah mereka apa itu nikotin ketika pertama kali mencoba? Adakah mereka mengantisipasi akan kecanduan pada akhirnya?

Tempat kediaman kami selama di Pulau Long

Di Pulau Long, tidak hanya sinyal ponsel dan internet yang nihil, tetapi puskesmas juga. Seorang bidan (ya, bukan dokter) akan turun ke Pulau Long tiap sebulan atau dua bulan sekali. Jujur, aku panik ketika mengetahui ada yang mengidap hipertensi parah (>200/120 mm Hg), tetapi tidak rutin mengonsumsi obat untuk mengontrol tekanan darah. Aku yang khawatir akan resistensi antimikroba, juga takjub ketika ada yang menggunakan antibiotik tanpa resep dokter!

Kembali ke cerita hari pertamaku di Pulau Long, anak-anak di sana begitu bersemangat mengerumuni kami, mahasiswa-mahasiswi yang saat ini berkuliah di berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri, untuk berkenalan. Masyarakat lokal di Pulau Long pun luar biasa ramah. Mereka selalu meluangkan waktu untuk mengajak nongkrong, makan, atau karaoke bersama ketika aku melewati rumah mereka. Selama di pulau nan damai ini, aku biasanya dipanggil “amoy” yang merupakan sapaan umum untuk perempuan muda keturunan Tionghoa. Tertawaku yang katanya menyerupai SpongeBob juga cukup dikenal. Aku merasa tersanjung karena selera humorku tampaknya berstandar internasional. Lelucon-leluconku diterima dengan baik oleh teman-teman baruku di Pulau Long, juga di tempat-tempat perantauanku yang lainnya. Karena aku tergolong minoritas dan masyarakat lokal di Pulau Long tampaknya tidak sering kedatangan tamu keturunan Tionghoa di daerah mereka, aku memiliki tugas tambahan selama masa pengabdian di sana, yaitu menjadi duta tak resmi bagi etnisku. Aku berusaha untuk memberi kesan yang baik dan aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, misalnya tentang Bahasa Hakka. Dari pengalamanku merantau di negeri-negeri orang, aku telah belajar bahwa peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga” ada benarnya. Perilaku satu individu mampu mengubah persepsi seseorang terhadap suatu kelompok. Harapanku adalah tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain akibat kelakuanku. Di Pulau Long, tidak hanya pesona bintang-bintang malam dan teriakan-teriakan saat karaoke saja yang terungkap jelas, tetapi hal-hal sepele tentang diri sendiri pun dapat dengan begitu mudahnya diketahui oleh seluruh penduduk pulau. Oleh karena itu, junjunglah langit di mana kakimu berpijak.

Pesta buah kelapa bersama teman-teman baru

--

--

--

A junior undergraduate student studying Biomedical Informatics at Zhejiang University — University of Edinburgh Institute in Haining, China.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Adele Valeria

Adele Valeria

A junior undergraduate student studying Biomedical Informatics at Zhejiang University — University of Edinburgh Institute in Haining, China.

More from Medium

CatchLive #4. Core Features

Introduction to Mean, Mode, Median and When

goodbye takko

Language, Learning and Change: Part Two